Penyakit kemenangan (Victori Desease) : Penyakit yang membuat Jerman lebih maju dari pada lawannya di Perang Dunia II
Prolog
Dalam pertempuran Perang Dunia I, memang cukup bagus dan cocok dalam tes atau pembuktian seberapa kuat dalam hal kekuatan militer dalam suatu negara-negara peserta Perang Dunia I, seperti hal nya Inggris yang membuktikan dengan armada lautnya yang terkenal sebagai The Lion Sea, sang singa lautan tak bisa dipungkiri kapal-kapalnya yang canggih dan kokoh diperang Dunia I yang bisa menguasai seluruh samudra, menelan para armada kapal laut Jerman dan beserta kapal selamnya. Hal ini membuktikan bahwa nanti di Perang Dunia selanjutnya, Inggris akan tetap gagah dan kuat. Begitu pula dengan Prancis yang memiliki kavaleri berkuda memumpuni dan dibekali senjata senapan bayonet serta didukung pasukan tank beserta artileri dan meriamnya, yang sehingga bisa memukul mundur pasukan kekaisaran Jerman dan Austro-Hungarian di Perang Dunia I, hal ini juga membuktikan, bila terjadi kelanjutan dalam series Perang Dunia I, maka Prancis terhitung kuat dalam melumat musuhnya yang akan mengancam dan menyerang. Lalu. "bagaimana dengan Jerman?"
Pertempuran Perang Dunia I bagi jerman bukanlah suatu ajang pembuktian atau tes seberapa kuatkah militer Jerman. Pasalnya Kekaisaran Jerman pada waktu itu belum memiliki kekuatan militer yang cukup, sedangkan ambisi Wilhelm II dalam segi militer dan gila peperangan sangatlah besar. Apalagi tekanan dari Kekaisaran Austro-Hungarian sang kawan Jerman yang ingin cepat-cepat bergelut bersama melawan Rusia yang mengganggu Austro Hungarian untuk merebut wilayah Serbia yang dilindungi Rusia. Diperparah lagi dengan adanya Schlieffen Plan yang jauh-jauh hari direncanakan oleh Willhelm II untuk menyerang Prancis dari arah Belgia dan Belanda tiba-tiba sudah bergerak dan bersiap menyerang Prancis tanpa adanya aba-aba dari Wilhelm II. Tekanan dan ambisi tersebut memunculkan keputusan yang "agak" cukup mendesak dan terpaksa oleh Wilhelm II untuk mengikutsetakan Jerman dalam pusaran peperangan Dunia I. Dan hasilnya seperti kita ketahui bersama, Jerman Kalah dalam Perang Dunia I. Hal ini jelas mengintisarkan bahwa Perang Dunia Pertama bukan ajang pembuktian kekuatan militer yang sebenarnya bagi Jerman. Tapi "akankah di Perang Dunia Selanjutnya Jerman akan tetap sama seperti diPerang Dunia pertama, yang belum bisa membuktikan bahwa dirinya mempunyai militer yang kuat?"
Discussion
Inggris dan Prancis dengan tenangnya bersandar tertidur pulas dalam kepercayaan diri mereka, dalam Perang Dunia Pertama mereka telah membuktikan bahwa militer mereka kuat dan tak tertandingi, walaupun akan muncul musuh yang siap melawan, mereka akan tetap nyenyak, karena mereka berlabel sang juara bertahan Perang Dunia Pertama. Apalagi musuhnya yang akan datang tiba itu adalah musuh yang sama yang mereka hadapi di Perang Dunia pertama, yaitu Jerman. Semakin terlelaplah mereka, sampai penulis Perang Eropa, P.K Ojong (2002) menjelaskan bahwa kemenangan Inggris dan Perancis sebagai lagu nina bobo, yang membuat mereka semakin terlelap. Mereka berdalih bila musuhnya sama seperti di perang kemarin, mereka mempunyai trik dan strategi yang jitu untuk mengalahkan musuh tersebut karena trik dan strategi tersebut terbukti bisa mengalahkan musuh tersebut dalam peperangan kemarin. Artinya bila musuhnya sama seperti dulu, maka akan menggunakan trik dan strategi yang sama seperti dulu juga.
Sebaliknya dengan Jerman ketika muncul dalam permukaan Perang Dunia ke II dengan membawa dendam pada Perang Dunia pertama. Justru telah tersadar dalam kekalahannya "Armies Learn Only From Defeat" para tentara belajar dari suatu kekalahan. Dibawah pimpinan Hitler Jerman berevaluasi dan mencari hal-hal yang baru. Sedangkan pasukan sang pemenang Perang Dunia Pertama Iggris dan Perancis masih asyik dengan dongeng lalu dan mainan lamanya yang telah menjemput mereka pada kemenangan di Perang Dunia Pertama. Sedangkan Jerman sedang asyik mempersiapkan hal yang baru dan menjanjikan yang akan diperlihatkan di awal Perang Dunia II.
Letusan rudal yang menubruk jatuh keatap gedung dan bangunan lainnya serta menubruk jalan-jalan dan gang-gang sempit dalam pemukiman padat di Polandia, muncul dari pesawat pengebom Jerman pada tanggal 1 September 1939. Menandakan, bahwa Jerman memulai pertempuran Perang Dunia ke II. Sontak saja para pemegang title juara bertahan "series" Perang Dunia, yaitu Inggris dan Prancis langsung siap mengeluarkan trik jitu mereka yang pernah mereka lakukan dalam menghabisi jerman di Perang Dunia I. Kavaleri-kavaleri berkuda berserta senapan bayonet dan senapan serbunya yang tangguh sebagai tim utama dan sebagai ujung tombak, dan dibantu oleh beberapa tank dibelakangnya menjadi tim support dalam pertempuran. Dan trik tersebut akan ditiru oleh Polandia yang baru diserang oleh pasukan angkatan udara Jerman (Luftwaffe) untuk mempertahankan wilayahnya dan mencegah pasukan darat Jerman masuk ke wilayah Polandia.
Pembuktian kejituan trik yang sama digunakan dalam Perang Dunia Pertama terlihat semakin pudar. Jerman berbeda dengan yang dulu, Jerman berevaluasi diri, dan Jerman berinovasi. Polandia yang digadang-gadang sebagai anak emas bagi Inggris, percaya, bahwa Inggris dulunya pernah memukul mundur Jerman dengan mudah dengan Kavaleri sebagai tim utamanya. Namun kali ini keadaanya berbeda Jerman yang dulu menggunakan Arteleri yang banyak dan lamban sedangkan sekarang Jerman menggunakan sesuatu yang cepat dan sama cepatnya seperti Kavaleri, namun bukan Kavaleri atau pasukan berkuda, tapi ini lebih besar dan kuat. Ya TANK! Jerman menggunakan Tank! tapi Tank sebagai pasukan utama atau ujung tombak bukan sebagai pasukan pendukung yang pada umumnya dilakukan dalam peperangan. Ribuan Tank menyerbu secara gesit dan gagah menyerang pasukan Kavaleri berkuda milik Polandia. Jelas sudah penyerbuan Jerman ke Polandia berhasil dengan mulus, saking mulusnya pertempuran benar-benar lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga pertempuran tersebut lebih dikenal dengan sebutan 'BliztKrieg' atau perang kilat. Karena inovasi dalam memanfaatkan Tank sebagai tulang punggung dan pasukan utama, bisa dikatakan bahwa Jerman menjadi pendobrakan adanya revolusi pengguanaan persenjataan dalam peperangan, pasalnya pada hal layak umum tank adalah pasukan pendukung yang disiapkan dalam satuan jumlah yang tidak banyak.
BliztKrieg pengguan ribuan tank sebagai Pasukan Utama (sumber: Google)
Mengapa hal tersebut tidak terpikirkan oleh pemegang title Juara bertahan Perang Dunia, bahwa bila saja Tank menjadi pasukan utama, penyerangan akan semakin cepat dan kekuatannya pun akan semakin kuat. Pada dasarnya di akhir abad ke 19, Tank merupakan termasuk persenjataan yang mewah dan mahal. Tank yang juga dikenal sebagai Kendaraan berlapis baja memiliki beban yang cukup berat sehingga mobilitasnya pun terbilang lamban, sehingga dari perang ke perang Tank digunakan sebagai pertahanan terkhir dari suatu pasukan, jadi tank hanya sebagai tim pendukung kavaleri dan arteleri. Tetapi dari jaman ke jaman, Perang ke Perang teknologi tank semakin berkembang kemampuannya pun semakin bekembang namun hanya saja, dalam penggunaannya masih belum berkembang, Tank masih saja sebagai tim pendukung yang berjaga dilini belakang. Perberlakuan seperti ini juga diperkuat dengan adanya Perang Dunia I yang bekecamuk di Eropa dengan lebih dominan menggunakan pasukan Kavaleri berkuda sebagai pasukan utama yang sudah dari ribuan tahun menjadi pasukan utama yang unggul, sampai bisa mengalahkan Jerman dengan mudah di Perang Dunia I.
Sebenarnya ada beberapa orang dari para pemegang Title Juara Bertahan series Perang Dunia, yang sadar dengan hal tersebut, salah satunya adalah sang pelopor teori tank sebagai pasukan utama yang lebih dulu dari pada Jerman, yaitu Kapten Liddell Hart dari inggris, namun sayangnya sang nabi tak didengar oleh kaumnya. Justru malah didengar dan diantusiaskan oleh seorang kopral Jerman Heiz Guderian sang "Pahlawan Tank" yang merealisasikan teori Tank milik Liddle Hart tersebut di pertempuran Polandia. Liddell Hart yang sudah mencurahkan idenya kepada jendral-jendral Inggris yang notabene jendral-jendral dalam Perang Dunia I yang sudah pasti berpengalaman, menolak usulan Liddell Hart. Alasannya seperti yang tadi dijelaskan, karena Kavaleri terbukti dalam peperangan Dunia I, dan masih akan menjadi primadona dalam peperangan. Artinya Victori Desease sudah menjankit para jendral-jendral inggris tersebut.
Selanjutnya dari Pihak Prancis juga ada yang berpikir sama dengan liddell Hart. Charless de Gaule, namun sayangnya para jendral senior yang penuh akan pengalaman pada perang dunia pertama, tak mengakui usulan tersebut. Charless de Gaule berpikir bahwa satuan Tank yang memiliki kekuatan dan kecepatan yang biasanya menjadi bagian kecil dalam sebuah pasukan, bila disatukan dengan Tank lainnya maka akan menjadi kepalan tinju yang bisa mengahancurkan musuh dengan cepat. Namun seperti hal nya Liddell Hart, Charles De Gaule adalah sang nabi yang tak didengar oleh kaumnya. Berbeda dengan Heiz Guderian seorang kopral Jerman ternyata salah satu langganan majalah Tank milik Liddell Hart dan sangat meyakini bahwa teori Tank milik Liddell Hart tersebut sangat manjur bila diterapkan dalam pertempuran. Bertemu dengan pimpinannya yaitu Hitler yang selalu tertarik dengan pemikiran ide-ide baru dalam peperangan dan akhirnya terciptalah harmoni antara pimpinan dan bawahan yang sama-sama memiliki keinginan untuk berinovasi yang mahasilkan karya dahsyat dalam revolusi taktik persenjataan perang yang terjadi pada awal Perang Dunia ke II, dan menjadi tonggak awal kabangkitan militer Jerman dari kekalahannya dimasa lalu.
Epilog
Sebenarnya perjanjian Versailes yang dirancang pasca Perang Dunia pertama untuk mencegah Jerman melakukan tindakan militerisme untuk kedua kalinya, selain melarang jerman memiliki lebih dari 100.000 pasukan, Jerman juga dilarang memiliki pasukan Panser atau Tank. Namun perjanjian Versailles yang mengekang Jerman dan membuat sengsara masyarakat Jerman dirobek oleh Hitler. Pada dasarnya, perjanjian tersebut tidak akan membuat Jerman berkembang menjadi musuh handal bagi para juara bertahan Perang Dunia I. Dengan berkembangnya Jerman, dibuktikan melalui penyerangannya ke Polandia secara cepat dan singkat yang bertajuk BliztKrieg, serta penyerangan selanjutnya mempermalukan Prancis yang tadinya percaya diri dengan track record-nya mempercundangi Jerman di Perang Dunia I dan merasa memiliki trik yang jitu untuk menghadangnya namun kenyataannya Paris jatuh ketangan Jerman.
Simpulnya hakikat dari Victori Desease adalah suatu keadaan tenang yang dialami pemenang karena memiliki trik yang teruji sebelumnya untuk mengalahkan lawan yang sama.
Sumber :
Wikipedia. B.H. Liddell Hart
Hart, Liddell, B.H. Strategi 2nd edision. New York: Frederick A. Praeger, 1967
Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid 1. Jakarta : Kompas
Guderian, Heiz. Panzer Leader. Journal Internet PDF

Comments
Post a Comment