Prolog
Perang Dunia II adalah salah satu perang besar dan paling mematikan dalam riwayat sejarah umat manusia. Pertempuran ini telah menewaskan lebih dari 32 juta jiwa serdadu fasis, maupun serdadu sekutu, beserta para penduduk sipil diseluruh wilayah Eropa.
Mungkin masih banyak diantara kalian yang menganggap pertempuran besar ini muncul kepermukaan karena hanya ulah pemimpin kejam dan sombong seperti Hitler yang hanya ingin menguasai seluruh wilayah Eropa dan membinasakan beberapa suku bangsa yang secara peribadi ia benci.
Sebenarnya pernyataan tersebut ada benarnya dan didukung dengan fakta-fakta yang bermunculan bahwa banyak negara-negara yang beraliansi di Eropa sejak september 1939 berbondong-bondong melakukan penyerangan terhadap Jerman yang tiba-tiba bangkit setelah kekelahannya di Perang Dunia I hingga langsung mencapluk beberapa wilayah seperti Polandia, Austria, Nowegia dan lain lainnya menjadi mangsa segar bagi invasi perluasan wilayah Jerman dibawah pimpinan Hitler. Wajar beberapa negara kuat di Eropa sontak siap merespon cepat pencaplukan wilayah-wialayah Eropa yang dilakukan jerman ini, dengan cara menyatakan perang siap bertempur melawan Jerman. Karena ini menginsyaratkan bahwa Jerman berbahaya bagi kedaulatan dan keutuhan bangsa lain.
Namun pada dasarnya tidak se-simple itu kita mengambil keputusan bahwa hal ini terjadi hanya karena pelampiasan nafsu seorang Hitler yang ingin menguasai Eropa ataupun Dunia, dan melakukan genosida pada beberapa suku bangsa di Eropa. Justru ada beberapa fakta yang yang mengungkapkan bahwa tak selamanya atau tak sepenuhnya, perang yang paling mematikan tersebut terangkat karena adanya pemimpin kejam Jerman, yang kita kenal, Hitler.
Dari beberapa fakta yang saya temukan, perang Dunia II muncul akibat berakhirnya Perang Dunia I yang berhasil mempermalukan Kekaisaran Jerman yang besar dibawah pimpinan Wilhelm II. Bila seperti itu. Lalu "apakah Perang dunia II bisa disebut sebagai series lanjutan dari Perang Duna I? "
Jelas hal ini adalah sebuah lanjutan cerita series dari Perang Dunia sebelumnya. Pada dasarnya dalam suatu peristiwa pasti ada sebab dan akibatnya yang terus bekaitan secara langsung. lalu "apakaitanya Perang Dunia I dan ke II?, Apa mungkin Hitler yang muncul di Perang Dunia II juga tidak terlibat dan berperan besar pada Perang Dunia I?" dan "Mengapa akhir Perang Dunia pertama bisa memunculkan perang yang hampir serupa?''
Discussion
Perang Dunia I yang berlangsung sangat rumit dari 1914 hingga 1918, membuat negara kekaisaran Jerman dibawah pimpinan kaisar "sombong" Wilhelm II yang memiliki ambisi besar dalam militer & menguasai seluruh Eropa, bisa kalah telak dihabisi musuhnya seperti Inggris, Prancis, Rusia dan Amerika. Mereka memberondong habis-habisan pasukan Kekaisaran Jerman, beserta para aliansinya seperti Austro-Hungarian & Turki Ottoman yang ikut terlibat dalam peperangan dan juga ikut mengalami kerugian setelah peperangan. Austro-Hungarian harus merelakan keutuhan kekaisarannya dibalik Perjanjian Saint-Germain-en-Laye, bahwa dalam perjanjian tersebut negara-negara pemenang Perang Dunia I menentukan agar Kekaisaran Austro-Hungarian yang sudah berdiri lebih dari setengah abad ini harus bubar begitu saja.
10 Sept 1919 Perjanjian Saint Germain en Laye (sumber : Wikipedia)
Begitu pula dengan Turki Ottoman, walaupun terbilang sebagai kontestan baru dalam perang dunia I, Turki Ottoman sebagai bangsa veteran yang terbilang bangsa yang tua dan senior yang telah berdiri dari abad ke 11 tentu saja, kita tidak bisa menganggap remeh sang veteran ini. Dimasa kejayaannya pun Turki Ottoman memiliki kekuasaan yang luas dari daratan Eropa barat hingga daratan Hindia, mengadakan gebrakan membombardir musuh Jerman yaitu Rusia yang sebelumnya menganggap remeh aliansi antara Jerman dan turki Ottoman. Namun sayang, dalam Perang Dunia I, taring sang veteran sudah ompong, kekuatannya mudah rapuh dan militernya pun terasa keropos. Gebrakan awal yang membuat Rusia keteteran pun tidak kembali mengancam, malah Turki Ottoman yang merasa keteteran dengan beraliansi dengan Jerman. Hasilnya Turki Ottoman tidak jauh beda dengan Austro-Hungarian, Kekaisaranya yang berumur hampir 10 abad ini harus kandas. Walaupun sebenarnya pembubaran Turki Ottoman bukan secara langsung karena kekalahannya di Perang Dunia I, tapi memang sebelumnya gonjang-ganjing politik ditanah Turki ini sudah ingin mengalami Revolusi dan Moderenisasi di pemerintahan Kesultanan Turki Ottoman. Di tambah lagi keadaan Perang Dunia I yang membuat wilayah-wilayah jajahan Turki Ottoman seperti Arab Saudi yang dibantu oleh Lawrence of Arabian dari Inggris (Musuh Jerman & Turki Ottoman) siap menyatakan melepaskan diri dari Turki Ottoman. serta wilayah Turki Ottoman lainya harus jatuh ketangan Inggris.
"Bagaimana dengan Jerman pasca Perang Dunia Pertama?" Jerman selaku peran utama atau pun peran antagonis dalam perang dunia I terlihat seperti hantu, yang keberadaannya dinyatakan ada namun tak terlihat. Jerman lebih banyak menderita setelah menelan dan mengakui kekalahannya pada Perang Dunia I. Para penguasa atau para pemenang Perang Dunia berdalih Jerman sebagai negara liar harus di ikat layaknya anjing liar yang baru saja dijinakan. pengekangan tersebut antara lain tertuang pada perjanjian Versailes yang disepakati negara-negara pemenang Perang Dunia I, yang menginginkan kekaisaran Jerman di bubarkan dan menjadi negara Merdeka Republik Weimar yang lebih jelasnya negara boneka dari negara pemenang Perang Dunia I. Dalam perjanjian Versailes juga, Jerman dituntut untuk ganti rugi peperangan, membatasi pasukan hingga dilarang melebihi 100ribu tentara, Jerman juga dilarang membangun pasukan panser yang nantinya dimasa depan menjadi pasukan paling berbahaya dari Jerman. Hal ini dilakukan oleh negara-negara pemenang untuk mencegah sang anjing yang baru dijinakan tidak kembali liar.
Namun langkah yang dilakukan negara-negara pemenang Perang Dunia I, justru menjadi bumerang bagi mereka. langkah ini malah bukan membuat jerman terikat dan tetap jinak, tetapi juga membuat rakyat Jerman terkena bencana kelaparan, serta penganguran dimana-mana yang diakibatkan inflasi mata uang Mark yang semakin tak berharga lagi. Kebijakan pembangunan Republik Weimar oleh negara-negara pemenang Perang Dunia I, tak nampak sebagai solusi. Justru permasalahannya inflasi sendiri muncul karena kewajiban Jerman yang harus ganti rugi biaya peperangan yang sudah tertulis pada perjanjian Versailes. "Sudah jatuh tertimpa tangga Pula" sudah kalah harus ganti rugi pula. Kerugian besar ini membuat rakyat Jerman geram, beberapa para petinggi republik Weimar Jerman sadar akan hal ini, begitu pula salah satu pemimpin partai Sosialist Nasionalis (Nazi) yang siap melakukan pemberontak. Walaupun dalam hasil pemberontakanya gagal, tetapi Hitler berhasil menaklukan hati rakyat Jerman untuk sadar dalam keadaan yang sebenarnya.
V for Vendetta adalah sebuah istilah yang saya temukan dari judul film dan novel karya Moore dan Llyod, yang menceritakan tentang seseorang yang berinisial "V" yang berjuang untuk menghancurkan rezim pemerintahan di Inggris berdasarkan rasa dendam keluarganya yang mendalam. Istilah Vendetta ini dirasa pas bagi saya untuk menggambarkan Jerman yang mulai sadar akan kekalahannya dan juga dikekang oleh kebijakan dalam perjanjian Versailes yang sebenarnya hanya disetujui oleh para negara pemenang tanpa adanya persetujuan dan kehadiran dari negara yang kalah. Kerugian materil dalam peperangan yang dialami Jerman ditambah suatu kewajiban unuk membayar ganti rugi. Jelas hal ini kebijakan yang sangat-sangat salah yang dibuat negara-negara pemenang yang malahan membuat dendam atau Vendetta muncul mengancam mereka. Anjing yang harusnya sudah jinak seharusnya tidak terus dikekang, dirantai dan dibuat terus kelaparan dan kehausan, sehingga hal itu malah membuat sang anjing akan menjadi liar dan tak jinak. Begitu pula dengan Jerman, dari kebijakan negara pemenang Perang Dunia I ini membuat Jerman bukan semakin penurut namun malah menjadi semakin liar, karena kekangan dan rantai yang dibuat negara-negara pemenang Perang Dunia I justru jadi dendam dan malapetaka dalam peperangan dunia yang selanjutnya.
Epilog
Bisa kita simpulkan dalam pemhaman diatas bahwa Perang Dunia II meletus bukan hanya karena Hitler ingin menguasai Eropa atau pun Dunia. Melainkan karena adanya kesalahan Penanganan negara yang kalah oleh negara pemenang Perang Dunia ke II, yang tadinya beriniat mengekang Jerman supaya tak berulah lagi seperti hal di Perang Dunia I, justru penanganan ini membat Jerman semakin terpuruk dan mengalami banyak kerugian yang akhirnya menimbulkan rasa dendam penyesalan untuk menyerah terhadap negara-negara pemenang Perang Dunia I.
Pada akhirnya peristiwa ini menjadi suatu pengalaman dan pembelajaran, contohnya pada akhir Perang Dunia ke II yang sekali lagi diperankan Jerman sebagai penelan kekalahan pada saat itu tidak lagi dikekang dan tuntut untuk ganti rugi seperti halnya di Perang Dunia I. Justru Jerman sebagai pihak yang kalah seperti kembali diajak bangkit dari kekalahan oleh para negara-negara pemenang Perang Dunia ke II dengan cara memberi bantuan Ekonomi, bantuan logistik, dan bantuan pembangunan perbaikan sisa sisa kehancuran dalam peperangan. Walaupun dalam sisi politiknya bentuk bantuan-bantuan dari negara-negara pemenang Perang Dunia II khusunya Amerika dan Uni Soviet hanya untuk mencari simpatik dan dukungan dalam persaingan negara adidaya dan ideologi pasca Perang Dunia ke II dalam tajuk Perang Dingin (Cold War). Namun tak lepas dalam persaingan itu Dunia tercegah dari peperangan yang kemungkinan diakibatkan dari kesalahan-kesalahan yang sama yang terjadi dalam akhir Perang Dunia.
Sumber :
Apocalypse : The Second World War. National History Documentary Chanel
Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid I. Jakarta : Kompas
Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid II. Jakarta : Kompas
Quataert, Donald. 1994. The Ottoman Empire. New York: Cambrigde University Press
Wikipedia. ReichWeimar, Germany Kaiser, Autria-Hungarian
"Bagaimana dengan Jerman pasca Perang Dunia Pertama?" Jerman selaku peran utama atau pun peran antagonis dalam perang dunia I terlihat seperti hantu, yang keberadaannya dinyatakan ada namun tak terlihat. Jerman lebih banyak menderita setelah menelan dan mengakui kekalahannya pada Perang Dunia I. Para penguasa atau para pemenang Perang Dunia berdalih Jerman sebagai negara liar harus di ikat layaknya anjing liar yang baru saja dijinakan. pengekangan tersebut antara lain tertuang pada perjanjian Versailes yang disepakati negara-negara pemenang Perang Dunia I, yang menginginkan kekaisaran Jerman di bubarkan dan menjadi negara Merdeka Republik Weimar yang lebih jelasnya negara boneka dari negara pemenang Perang Dunia I. Dalam perjanjian Versailes juga, Jerman dituntut untuk ganti rugi peperangan, membatasi pasukan hingga dilarang melebihi 100ribu tentara, Jerman juga dilarang membangun pasukan panser yang nantinya dimasa depan menjadi pasukan paling berbahaya dari Jerman. Hal ini dilakukan oleh negara-negara pemenang untuk mencegah sang anjing yang baru dijinakan tidak kembali liar.
Akibat Inflasi terburuk sepanjang sejarah ekonomi Jerman, nilai mata uang Mark Jerman mengalami kemerosotan hingga dianggap tak berharga lagi (Sumber: Wikipedia)
Namun langkah yang dilakukan negara-negara pemenang Perang Dunia I, justru menjadi bumerang bagi mereka. langkah ini malah bukan membuat jerman terikat dan tetap jinak, tetapi juga membuat rakyat Jerman terkena bencana kelaparan, serta penganguran dimana-mana yang diakibatkan inflasi mata uang Mark yang semakin tak berharga lagi. Kebijakan pembangunan Republik Weimar oleh negara-negara pemenang Perang Dunia I, tak nampak sebagai solusi. Justru permasalahannya inflasi sendiri muncul karena kewajiban Jerman yang harus ganti rugi biaya peperangan yang sudah tertulis pada perjanjian Versailes. "Sudah jatuh tertimpa tangga Pula" sudah kalah harus ganti rugi pula. Kerugian besar ini membuat rakyat Jerman geram, beberapa para petinggi republik Weimar Jerman sadar akan hal ini, begitu pula salah satu pemimpin partai Sosialist Nasionalis (Nazi) yang siap melakukan pemberontak. Walaupun dalam hasil pemberontakanya gagal, tetapi Hitler berhasil menaklukan hati rakyat Jerman untuk sadar dalam keadaan yang sebenarnya.
V for Vendetta adalah sebuah istilah yang saya temukan dari judul film dan novel karya Moore dan Llyod, yang menceritakan tentang seseorang yang berinisial "V" yang berjuang untuk menghancurkan rezim pemerintahan di Inggris berdasarkan rasa dendam keluarganya yang mendalam. Istilah Vendetta ini dirasa pas bagi saya untuk menggambarkan Jerman yang mulai sadar akan kekalahannya dan juga dikekang oleh kebijakan dalam perjanjian Versailes yang sebenarnya hanya disetujui oleh para negara pemenang tanpa adanya persetujuan dan kehadiran dari negara yang kalah. Kerugian materil dalam peperangan yang dialami Jerman ditambah suatu kewajiban unuk membayar ganti rugi. Jelas hal ini kebijakan yang sangat-sangat salah yang dibuat negara-negara pemenang yang malahan membuat dendam atau Vendetta muncul mengancam mereka. Anjing yang harusnya sudah jinak seharusnya tidak terus dikekang, dirantai dan dibuat terus kelaparan dan kehausan, sehingga hal itu malah membuat sang anjing akan menjadi liar dan tak jinak. Begitu pula dengan Jerman, dari kebijakan negara pemenang Perang Dunia I ini membuat Jerman bukan semakin penurut namun malah menjadi semakin liar, karena kekangan dan rantai yang dibuat negara-negara pemenang Perang Dunia I justru jadi dendam dan malapetaka dalam peperangan dunia yang selanjutnya.
Epilog
Bisa kita simpulkan dalam pemhaman diatas bahwa Perang Dunia II meletus bukan hanya karena Hitler ingin menguasai Eropa atau pun Dunia. Melainkan karena adanya kesalahan Penanganan negara yang kalah oleh negara pemenang Perang Dunia ke II, yang tadinya beriniat mengekang Jerman supaya tak berulah lagi seperti hal di Perang Dunia I, justru penanganan ini membat Jerman semakin terpuruk dan mengalami banyak kerugian yang akhirnya menimbulkan rasa dendam penyesalan untuk menyerah terhadap negara-negara pemenang Perang Dunia I.
Pada akhirnya peristiwa ini menjadi suatu pengalaman dan pembelajaran, contohnya pada akhir Perang Dunia ke II yang sekali lagi diperankan Jerman sebagai penelan kekalahan pada saat itu tidak lagi dikekang dan tuntut untuk ganti rugi seperti halnya di Perang Dunia I. Justru Jerman sebagai pihak yang kalah seperti kembali diajak bangkit dari kekalahan oleh para negara-negara pemenang Perang Dunia ke II dengan cara memberi bantuan Ekonomi, bantuan logistik, dan bantuan pembangunan perbaikan sisa sisa kehancuran dalam peperangan. Walaupun dalam sisi politiknya bentuk bantuan-bantuan dari negara-negara pemenang Perang Dunia II khusunya Amerika dan Uni Soviet hanya untuk mencari simpatik dan dukungan dalam persaingan negara adidaya dan ideologi pasca Perang Dunia ke II dalam tajuk Perang Dingin (Cold War). Namun tak lepas dalam persaingan itu Dunia tercegah dari peperangan yang kemungkinan diakibatkan dari kesalahan-kesalahan yang sama yang terjadi dalam akhir Perang Dunia.
Sumber :
Apocalypse : The Second World War. National History Documentary Chanel
Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid I. Jakarta : Kompas
Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid II. Jakarta : Kompas
Quataert, Donald. 1994. The Ottoman Empire. New York: Cambrigde University Press
Wikipedia. ReichWeimar, Germany Kaiser, Autria-Hungarian
Comments
Post a Comment